Faktor Resiko Tekanan Darah Tinggi

Kita tahu bahwa faktor resiko berakitan erat dengan cara hidup kita. Tekanan darah tinggi, penyakit diabetes dan kelainan metabolisme lainnya adalah penyakit masuarakat makmur. Karena orang-orang yang kurang giziĀ  di negara-negara sedang berkembang biasanya terlalu miskin untuk memiiki faktor resiko tekanan darah tinggi atau penyakit lainnya. Tetapi dengan membaiknya situasi ekonomi mereka dan mereka dapat mencapai beberapa standar kehidupan negara-negara industri, tingkat penyakit kardiovaskular juga meningkat.

Faktor resiko tekanan darah tinggi salah satunya disebabkan karena berat badan berlebih atau obesitas. Hal ini meningkatkan berkembangnya berbagai faktor resiko dan oleh karena itu, berat badan itu sendiri merupakan suatu bahaya terhadap kesehatan salah satunya adalah tekanan darah. Penyebab utama dari kelebihan berat badan adalah terlalu banyak makan. Penyeba leih jauh lagi adalah karena kurangnya olaharaga, yaitu gaangguan yang berhubungan dengan pekerjaan pada begitu banyak orang yang menghabiskan waktu kerja di belakang meja, banhku pabrik, atau dibelakang kemudi mobil.

Faktor resiko tekanan darah tinggi kedua adalah merokok. Merokok merupakan suatu faktor resiko penting dalam penyakit kardiovaskular, menurut suatu penelitian yang pernah dilakukan walauoun orang yang merokok satu pak rokok sehari tiga kali atau mungkin menderita serangan jantung membandingkan orang yang tidak merokok, resikonya bertambah seiring dengan meningkatnya konsumsi rokok. Pada orang yang merokok secara terus menerus, kemungkinan terjadinya serangan jantung enam kali lebih besar dibandingkan mereka yang tidak merokok. Dan resiko mengalami penyakit hipertensi darah tinggi juga menjadi lebih besar.

Faktor resiko tekanan darah tinggi pada penderita diabetes yang akan terjadi lebih besar pada mereka yang tidak mengidap diabetes pada kelompok umur yang sama dan juga sama tinggi pada pria dan wanita. Hal yang berkaitan dengan kedua faktor resiko tersebut, diabetes dan tekanan darah tinggi menjelaskan frekuensi yang relatif dari penyakit koroner pada orang yang mengidap kedua faktor tersebut.

Dan masih ada asosiasi yang lebih penting antara diabetes dan penyakit pembuluh darah atau aterosklerosis yang tidak diobati dengan benar pada kaki. Pada kasus-kasus yang ekstrem, hal ini bisa menyebabkan gangren diabetik dan harus diobati dengan amputasi jari kaki atau seluruh kaki.

 

Posted in Ciri-Ciri Darah Tinggi | Tagged , , , , , | Leave a comment

Hipertensi Pada Anak-Anak

Hipertensi memang dikenal sebagai penyakit orangtua. Namun, anak-anak bahkan seorang bayi baru lahir juga bisa terkena. Anak-anak yang bertubuh tinggi biasanya beresiko lebih besar terkena hipertensi dibandingkan anak yang bertubuh lebih pendek seusianya. Meskipun kasusnya di Indonesia relatif kecil (kurang dari 1%), anak-anak yang masuk kelompok ini bisa mengalami masalah serius.

Tinggi-rendahnya tekanan darah pada anak-anak ditentukan dengan menghitung batas persentil antara tinggi badan dan usianya. Seorang anak dikatakan terkena darah tinggi apabila tekanan darahnya lebih tinggi sampai batas 5% di atas persentil ke 95. American Heart Asociation (AHA) merekomendasikan agar anak berusia diatas 3 tahun melakukan pemeriksaan tekanan darah setahun sekali. Untuk mengenali hipertensi pada anak-anak (tanpa mengukur tekanan darah), ada gejala-gejala yang perlu diperhatikan. Gejala yang muncul berupa sakit kepala, pusing, muntah dan badan menjadi lemas.

Hipertensi pada anak-anak tergolong hipertensi sekunder, artinya disebabkan oleh faktor lain. Faktor penyebabnya juga jelas seperti penyakit ginjal (hampir 80% kasus), kelainan jantung dan pembuluh darah. Kelainan sistem endokrin dan gangguan sistem saraf juga bisa mengakibatkan hipertesi pada anak-anak. Yang melegakan dari hipertensi pada anak-anak adalah penyakit ini bisa disembuhkan jika faktor penyebabnya bisa disingkirkan.

Pola makan tidak sehat, terutama yang dialami anak-anak yang beranjak dewasa, bisa memicu hipertensi. Anak-anak biasanya senang mengkonsumsi makanan siap saji atau junk food. Jenis makanan tersebut memiliki kandungan garam dan lemak tinggi. Karenanya, penting untuk membangun pola makan sehat sejak usia dini.

Selain makanan, orang tua sebaiknya mengusahakan anak-anaknya tidak terlalu sering terpapar asap rokok. Perokok pasif lebih banyak terkena efek samping dari asap rokok. Usahakan pula agar anak memiliki aktivitas sehingga mereka tetap aktif dan berolahraga. Perhatikan bagaimana anak-anak tidur, apakah ada masalah atau tidak. Sebab gangguan tidur seperti sleep apnea, yaitu gangguan tidur berupa ngorok dan sindroma tidur tidak lelap karena sistem pernafasan tersumbat. Hal-hal ini akan menghindarkan terjadinya hipertensi.

Posted in Ciri-Ciri Darah Tinggi | Tagged , , , , , | Leave a comment

Hipertensi Pada Penyakit

1. Hipertensi Pada Penyakit Jantung

Selain Diabetes Mellitus dan kolesterol tinggi, hipertensi merupakan faktor resiko utama terjadinya penyakit jantung. Sekitar 75% penderita hipertensi akan terkena penyakit jantung. Kondisi ini biasanya baru disadari saat penderita berusia lanjut, yaitu ketika jantung telah ‘lelah’ bekerja untuk memompa darah dengan tekanan berat. Tekanan darah tinggi akan menyebabkan pembesaran ventrikel kiri dan mempercepat timbulnya aterosklerosis.

2. Hipertensi Pada Diabetes Mellitus

Penderita Diabetes Mellitus harus mengendalikan tingkat gula darahnya, karena diabetes dan hipertensi saling berkaitan. Kedua penyakit ini bisa menyerang bersama-sama. Bila tidak segera diobati, akibatnya sangat berbahaya, yaitu resiko berkembangnya aterosklerosis (dinding pembuluh darah menjadi kaku dan sempit). Komplikasi baru sangat mungkin terjadi berupa serangan jantung, stroke dan penyakit ginjal.

Angka kejadian hipertensi pada penderita diabetes mellitus 1,5-2 kali lebih besar dibandingkan orang yang tidak menderita diabetes. Selain itu, komplikasi yang menyertai diabetes kebanyakan berkaitan dengan hipertensi, angkanya berkisar 35-75%. Resiko kematian akibat diabetes mellitus juga meningkat apabila penderitanya juga mengalami tekanan darah tinggi. Resiko komplikasi hipertensi dan diabetes mellitus bisa diturunkan dengan meningkatkan konsumsi makanan sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, menghindari alkohol, dan berhenti merokok.

3. Hipertensi Pada Penyakit Ginjal Kronis

Hipertensi memiliki kaitan erat dengan kesehatan ginjal. Penyakit ini merupakan faktor pemicu utama terjadinya penyakit ginjal dan gagal ginjal. Begitu pula sebaliknya, tekanan darah akan meningkat hingga menyebabkan hipertensi ketika fungsi ginjal terganggu. Kondisi ini disebabkan rusaknya organ-organ yang dilewati pembuluh darah akibat tekanan darah tinggi, salah satunya adalah ginjal. Akibat terparah, terjadi gagal ginjal progresif yaitu fungsi ginjal berhenti sama sekali. Pada stadium akhir ini, penderita menggantungkan hidup pada dialisis (cuci darah) dan transplantasi ginjal.

Hubungan hipertensi dan penyakit ginjal memang baru terjadi apabila kondisi hipertensi sudah cukup lama. Namun, penderita hipertensi tetap harus waspada. Menurunkan tekanan darah hingga di bawah 130/80 mmHg atau lebih rendah merupakan target yang harus dicapai. lebih baik jika melakukan tindakan pencegahan. Caranya dengan menerapkan pola hidup sehat melalui olahraga secara teratur, membatasi asupan garam, menghindari alkohol, menghindari rokok/tembakau, dan menjaga berat badan. Meskipun tidak ada keluhan, jangan lupa melakukan pengukuran tekanan darah secara berkala.

4. Hipertensi dan Stroke

Tekanan darah tinggi merupakan faktor utama penyebab stroke dan penyakit jantung. Di Amerika, satu dari empat orang dewasa atau sekitar 50 juta orang menderita hipertensi. Sementara, angka kejadian stroke akibat darah tinggi di Indonesia mencapai 36% pada lansia di atas 65 tahun.

Stroke ada dua jenis, stroke hemoragik dan stroke nonhemoragik. Stroke hemoragik adalah perdarahan otak yang disebabkan sobeknya pembuluh dinding darah (akibat tekanan darah yang tinggi dan mendadak). Jenis stroke ini bisa mengakibatkan fungsi otak terganggu, bahkan bisa membuat sel-sel otak penderita mati. Stroke nonhemoragik yakni stroke yang disebabkan oleh kurangnya suplai darah ke otak (iskemia) atau terhenti pada sebagian daerah di otak, tapi tidak sampai menimbulkan perdarahan.

Stroke iskemia kebanyakan dialami oleh penderita prehipertensi atau hipertensi stadium I. Tingkat serangan stroke bisa ringan sampai sedang. Stroke dikatakan ringan apabila serangannya hanya sementara dan pulih kembali dalam beberapa puluh menit hingga dua hari.

Stroke ringan sendiri dibagi menjadi 2, yakni transient ischemic attack (TIA) dan reversible ischemic neurologic deficit (RIND). TIA merupakan serangan sepintas. Contohnya tangan dan kaki sebelah terasa kesemutan atau kurang tenaga tetapi pulih kembali dalam 20 menit. Penderita berusia lebih dari 55 tahun dan memiliki tekanan nadi (selisih nilai sistolik dan diastolik) tinggi beresiko lebih besar mengalami TIA. Serangan RIND berupa gangguan saraf sementara. Misalnya kaki dan tangan sebelah mendadak terasa lemah tetapi kembali pulih setelah mendapat perawatan 2 hari atau penderita tiba-tiba sulit berbicara meskipun kesadarannya masih penuh. Penderita sebaiknya lebih waspada. Sekalipun serangan stroke tergolong ringan tetapi peluang kambuhnya cukup besar. Efek stroke isemik bisa diturunkan dengan terapi trombolitik bila diberikan beberapa jam setelah gejala muncul. Terapi ini untuk menguraikan bekuan darah pada pembuluh darah atau rongga jantung. Jika penderita merasa terkena stroke dianjurkan mencari pertolongan sesegera mungkin.

Posted in Ciri-Ciri Darah Tinggi | Tagged , , , , , | Leave a comment

Hipertensi Pada Kehamilan

Seorang wanita yang belum pernah mengidap hipertensi, tekanan darahnya bisa naik ketika sedang hamil. Kondisi ini disebut hipertensi gestasional (hipertensi akibat kehamilan) dan menjadi masalah yang sering terjadi selama kehamilan. Meskipun tekanan darah meningkat selama kehamilan, namun akan kembali normal setelah kehamilan usai. Hipertensi gestasional menjadi penyebab kedua terbesar kematian ibu. Angka kejadiannya 5-10% dari kehamilan. Kelainan ini hampir selalu terjadi pada kehamilan pertama. Karena itulah, tekanan darah ibu hamil harus selalu dipantau. Pengukuran dilakukan sambil duduk, untuk mendapatkan gambaran tekanan darah yang sebenarnya. Saat berbaring, hasil pengukuran tekanan darah lebih rendah.

Pada trimester pertama, tekanan darah relatif sama dengan tekanan darah sebelum kehamilan. Sementara tekanan darah selama trimester kedua cenderung menurun beberapa milimeter air raksa (mmHg). Kemudian, tekanan darah meningkat lagi pada trimester ketiga. Kenaikan tekanan darah ini bisa berujung pada terjadinya pre-eklamsia. Wanita hamil yang sebelumnya menderita hipertensi bisa juga mengalami perubahan tekanan darah selama hamil. Ada 5 kategori hipertensi dalam kehamilan menurut JNC (Tabel 3 ).

Hipertensi dalam kehamilan harus diobati. Bila dibiarkan, pertumbuhan janin dan pelepasan plasenta bisa terganggu karena ada resiko terjadi keracunan kehamilan. Pengobatannya cukup aman untuk ibu hamil dan janin, karena pemilihan obatnya disesuaikan dengan kehamilan dan sasaran penurunan tekanan darah.

Posted in Ciri-Ciri Darah Tinggi | Tagged , , , , , | Leave a comment