Hipertensi Pada Penyakit

1. Hipertensi Pada Penyakit Jantung

Selain Diabetes Mellitus dan kolesterol tinggi, hipertensi merupakan faktor resiko utama terjadinya penyakit jantung. Sekitar 75% penderita hipertensi akan terkena penyakit jantung. Kondisi ini biasanya baru disadari saat penderita berusia lanjut, yaitu ketika jantung telah ‘lelah’ bekerja untuk memompa darah dengan tekanan berat. Tekanan darah tinggi akan menyebabkan pembesaran ventrikel kiri dan mempercepat timbulnya aterosklerosis.

2. Hipertensi Pada Diabetes Mellitus

Penderita Diabetes Mellitus harus mengendalikan tingkat gula darahnya, karena diabetes dan hipertensi saling berkaitan. Kedua penyakit ini bisa menyerang bersama-sama. Bila tidak segera diobati, akibatnya sangat berbahaya, yaitu resiko berkembangnya aterosklerosis (dinding pembuluh darah menjadi kaku dan sempit). Komplikasi baru sangat mungkin terjadi berupa serangan jantung, stroke dan penyakit ginjal.

Angka kejadian hipertensi pada penderita diabetes mellitus 1,5-2 kali lebih besar dibandingkan orang yang tidak menderita diabetes. Selain itu, komplikasi yang menyertai diabetes kebanyakan berkaitan dengan hipertensi, angkanya berkisar 35-75%. Resiko kematian akibat diabetes mellitus juga meningkat apabila penderitanya juga mengalami tekanan darah tinggi. Resiko komplikasi hipertensi dan diabetes mellitus bisa diturunkan dengan meningkatkan konsumsi makanan sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, menghindari alkohol, dan berhenti merokok.

3. Hipertensi Pada Penyakit Ginjal Kronis

Hipertensi memiliki kaitan erat dengan kesehatan ginjal. Penyakit ini merupakan faktor pemicu utama terjadinya penyakit ginjal dan gagal ginjal. Begitu pula sebaliknya, tekanan darah akan meningkat hingga menyebabkan hipertensi ketika fungsi ginjal terganggu. Kondisi ini disebabkan rusaknya organ-organ yang dilewati pembuluh darah akibat tekanan darah tinggi, salah satunya adalah ginjal. Akibat terparah, terjadi gagal ginjal progresif yaitu fungsi ginjal berhenti sama sekali. Pada stadium akhir ini, penderita menggantungkan hidup pada dialisis (cuci darah) dan transplantasi ginjal.

Hubungan hipertensi dan penyakit ginjal memang baru terjadi apabila kondisi hipertensi sudah cukup lama. Namun, penderita hipertensi tetap harus waspada. Menurunkan tekanan darah hingga di bawah 130/80 mmHg atau lebih rendah merupakan target yang harus dicapai. lebih baik jika melakukan tindakan pencegahan. Caranya dengan menerapkan pola hidup sehat melalui olahraga secara teratur, membatasi asupan garam, menghindari alkohol, menghindari rokok/tembakau, dan menjaga berat badan. Meskipun tidak ada keluhan, jangan lupa melakukan pengukuran tekanan darah secara berkala.

4. Hipertensi dan Stroke

Tekanan darah tinggi merupakan faktor utama penyebab stroke dan penyakit jantung. Di Amerika, satu dari empat orang dewasa atau sekitar 50 juta orang menderita hipertensi. Sementara, angka kejadian stroke akibat darah tinggi di Indonesia mencapai 36% pada lansia di atas 65 tahun.

Stroke ada dua jenis, stroke hemoragik dan stroke nonhemoragik. Stroke hemoragik adalah perdarahan otak yang disebabkan sobeknya pembuluh dinding darah (akibat tekanan darah yang tinggi dan mendadak). Jenis stroke ini bisa mengakibatkan fungsi otak terganggu, bahkan bisa membuat sel-sel otak penderita mati. Stroke nonhemoragik yakni stroke yang disebabkan oleh kurangnya suplai darah ke otak (iskemia) atau terhenti pada sebagian daerah di otak, tapi tidak sampai menimbulkan perdarahan.

Stroke iskemia kebanyakan dialami oleh penderita prehipertensi atau hipertensi stadium I. Tingkat serangan stroke bisa ringan sampai sedang. Stroke dikatakan ringan apabila serangannya hanya sementara dan pulih kembali dalam beberapa puluh menit hingga dua hari.

Stroke ringan sendiri dibagi menjadi 2, yakni transient ischemic attack (TIA) dan reversible ischemic neurologic deficit (RIND). TIA merupakan serangan sepintas. Contohnya tangan dan kaki sebelah terasa kesemutan atau kurang tenaga tetapi pulih kembali dalam 20 menit. Penderita berusia lebih dari 55 tahun dan memiliki tekanan nadi (selisih nilai sistolik dan diastolik) tinggi beresiko lebih besar mengalami TIA. Serangan RIND berupa gangguan saraf sementara. Misalnya kaki dan tangan sebelah mendadak terasa lemah tetapi kembali pulih setelah mendapat perawatan 2 hari atau penderita tiba-tiba sulit berbicara meskipun kesadarannya masih penuh. Penderita sebaiknya lebih waspada. Sekalipun serangan stroke tergolong ringan tetapi peluang kambuhnya cukup besar. Efek stroke isemik bisa diturunkan dengan terapi trombolitik bila diberikan beberapa jam setelah gejala muncul. Terapi ini untuk menguraikan bekuan darah pada pembuluh darah atau rongga jantung. Jika penderita merasa terkena stroke dianjurkan mencari pertolongan sesegera mungkin.


=====================================

>>> Kapsul Cellery Membantu Mencegah, Mengatasi dan Mengobati Hipertensi (Darah Tinggi), Produk Herbal, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Ciri-Ciri Darah Tinggi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>